LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
PENGAMATAN MIKROSKOPIS CEMARAN AIR
Disusun oleh:
KELOMPOK
6
Mohammad
Saleh Helmi 135180298
KhovivaEka
Permata Sari 135180311
Savira Putri Prasditya 135180313
Indah
Pratiwi
135180314
Gadyz Auliya Hidayat 1351810388
kelas A418
AKADEMI FARMASI SURABAYA
AKADEMI FARMASI SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Jamur merupakan kelompok
organisme eukariotik yang membentuk dunia regnum fungi. Jamur pada umumnya
multisluler (bersel banyak). Ciri- ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya
dalam hal cara makan, struktur tubuh , pertumbuhan, dan reproduksinya. Jamur
juga merupakan makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanannya sendiri oleh
karena itu mereka bersifat saprofit atau parasit. Jamur
juga sudah banyak dimanfaatkan untuk fermentasi makanan misal pada tempe yang
menggunakan Saccharomyces cereviceae.
Oleh karena itu, dengan memepelajari bagian – bagian jamur yang ada pada
makanan seperti tempe, tape akan sangat membantu kita agar dapat memanfaatkan
jamur tersebut lebih baik.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
saja jenis jamur
yang terdapat pada sampel yang digunakan?
2.
Bagaimanakah struktur jamur pada sampel yang digunakan ?
3.
Bagaimana cara melakukan pengamatan jamur pada makanan?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui jenis
jamur yang terkandung pada sampel yang digunakan
2.
Untuk
mengetahui struktur
jamur pada sampel yang digunakan
3.
Untuk
mengetahui cara
melakukan pengamatan jamur pada makanan
BAB II
Tinjauan Puastaka
A.
Tinjuan Umum tentang Aspergillus sp
Aspergillus merupakan salah satu marga
tertua jamur (Raper dan Fennel, 1965) membagi Aspergillus mejadi delapan belas
kelompok yaitu, Aspergillus clavatus,
Aspergillus glaucus, Aspergillus restrictus, Aspergillus fumigatus, Aspergillus
ochraceus, Aspergillus niger, Aspergillus candidus, Aspergillus flavus,
Aspergillus wentii, Aspergillus cremeus, Aspergillus sparsus, Aspergillus
versicolor, Aspergillus nidulans, Aspergillus ustus, Aspergillus flavipes dan
Aspergillus terreus. Aspergillus
niger adalah kapang anggota genus Aspergillus, family Monoliaceae, ordo
Monoliales, kelas Deuteromycetes, dan divisi Eumycetes (Hardjo dkk, 1989).
1.
Karakteristik Aspergillus niger
Ciri-ciri spesifik Aspergillus adalah
hifanya bersepta dan miseliumnya bercabang, biasanya tidak bewarna, yang
terdapat di permukaan merupakan hifa vegetatif, sedangkan yang muncul diatas
permukaan umumnya merupakan hifa fertile, koloni kompak, konidiofora septa,
atau nonsepta, muncul dari “foot cell” (yaitu miselium yang membengkok dan
tebal), konidiofornya membengkak menjadi vesikel pada ujungnya dan membentuk
stigmata dimana tumbuh konidia, sterigmata biasanya sederhana, bewarna atau
tidak bewarna, konidia membentuk rantai yang bewarna hijau, coklat atau hitam
dan beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 370C atau lebih (Debby et
al.,2003:11).
· Niger
adalah jenis jamur berfilamen, kosmopolitan dan dapat ditemukan diberbagai
tempat di alam. Jamur ini disebut sebagai keindahan. Jamur ini memiliki konidia
berasal dari kepala spora yang beradiasi dari pusat struktur, menyerupai Aspergillus.
Aspergillus terpisah secara genus, namun memiliki kekerabatan yang dekat dengan
spesies Penicillium di dalam kingdom fungi (Prakash dan Jha, 2014)
· Niger
diisolasi dari tanah, sisa tumbuhan, dan udara di dalam ruangan. A. niger
tumbuh optimum pada suhu 35-37 oC, dengan suhu minimum 6-8 oC dan suhu maksimum
45-47 oC (Inggrid dan Suharto, 2012:10). Ketika berusia muda koloni A. niger
berwarna putih dan berubah menjadi hitam ketika berbentuk konidiospora. Kepala
konidia (Conidiahead) berwarna hitam, berbentuk bulat (Noverita, 2009). Koloni
A. niger berwarna putih sampai kuning pada permukaan bawah koloni yang kemudian
berubah warna menjadi coklat gelap hingga hitam setelah terbentuk konidiofor
(konidia). Kepala konidia radiat. Tangkai konidia (konidiofor) berdinding halus,
hialin, tetapi sering berwarna coklat. Vesikula bulat sampai semi bulat dengan diameter
10-100 μm. Fialid duduk pada metula dengan ukuran 7,0 – 9,5 x 3 – 4 μm. Metula
hialin sampai coklat, sering bersekat dengan ukuran 15 – 25 x 4,5 – 6,0 μm. Konidia
bulat sampai semi bulat dengan diameter 3,5 – 5 μm dan berwarna coklat dengan
ornamen (Noverita, 2009).
2.
Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari A.niger adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Fungi
Divisi : Eumycetes
Kelas : Deuteromycetes
Ordo : Moniliales
Famili : Moniliaceae
Genus : Aspergillus
Spesies : Aspergillus niger (Food dan
Drug of US, 1998).
3.
Peranan Aspergillus niger
A.niger mempunyai banyak manfaat,
seperti memiliki kemampuan untuk memproduksi asam sitrat (Ali et al.,2002).
Selian itu juga memiliki kemampuan memproduksi enzim amilase, protease,
xelulase dan lipase (Suganthi et al., 2011). A. niger dan penicilium digiatum
dimanfaatkan dalam meningkatkan produksi verbenol. Verbenol adalah senyawa
makanan yang banyak digunakan pada minuman ringan, sup, daging, sosis, dan es
krim (Rao et al., 2003). Pada industri, A. niger dimanfaatkan untuk memproduksi
asam oksalat dan asam glukonat (Rymowicz and lenart, 2003). A. niger mempunyai
fungsi utama untuk proses saccharifikasi zat pati beras. Namun beberapa spesies
digunakan untuk fermentasi produk-produk tradisional seperti kecap asin, miso
(tauco) dan untuk industri fermentasi seperti industry sake (Debby et
al.,2003).
A.niger merupakan jamur yang dapat
menghasilkan protease. Protease dari cendawan Aspergillus memiliki lebih banyak
keuntungan daripada protease bakteri dalam pemisahan enzim karena miselium
dapat dihapus hanya dengan filtrasi. Protease yang dihasilkan oleh A. niger
lebih baik karena menghasilkan protease yang lebih tinggi, waktu produksinya
lebih singkat dan biayanya relatif murah. Di beberapa negara Asia, genus
Aspergillus banyak digunakan untuk memproduksi makanan fermentasi tradisional
(Indratiningsih et al., 2013).
B.
Penisilin dan Mikrobia Penghasil Penisilin
Antibiotika adalah bahan-bahan bersumber
hayati yang pada kadar rendah dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
Penisilin merupakan salah satu jenis antibiotik yang dihasilkan oleh
Penicillium (Schlegel dan Schmid, 1984). Penisilin merupakan kelompok
antibiotik yang ditandai oleh adanya cicin β-laktam dan diproduksi oleh
berbagai jenis jamur (eukariot) yaitu dari jenis Penicillium, Aspergillus,
serta oleh beberapa prokariot tertentu (Madigan el al., 2000). Sifat unik pada
masing-masing penisilin ditentukan oleh adanya rantai samping yang
berbeda-beda. Secara kimia penisilin digolongkan ke dalam antibiotik β-laktam
(Pelczar dan Chan, 1988).
Penisilin diproduksi oleh beberapa jenis
jamur antara lain jamur Penicillium
notatum, Penicillium chrysogenum, dan lain-lain, serta beberapa jenis
Streptomyces (Pyatkin, 1967; Brakhage, 1998). Penicillium chrysogenum adalah
salah satu mikroorganisme yang penting dalam bidang industri terutama dalam
menghasilkan penisilin yang merupakan salah satu antibiotik komersil yang utama
(Pyatkin, 1967; Brakhage, 1998).
Penisilin aktif melawan pertumbuhan
banyak spesies bakteri, terutama bakteri yang bersifat Gram positif dan bakteri
Gram negatif (Volk dan Wheeler, 1993). Menurut Atlas (1988), penisilin yang
efektif terhadap bakteri Gram positif maupun bakteri Gram negatif mempunyai
spektrum luas atau broad spectrum.
Menurut Waluyo (2004), sifat-sifat yang
dimiliki penisilin sebagai berikut:
1. Menghambat
atau membunuh patogen tanpa merusak inang (host)
2. Bersifat
bakterisida dan bukan bakteriostatik
3. Tidak
menyebabkan resistensi pada kuman
4. Berspektrum
luas, yaitu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negative
5. Tidak
bersifat alergenik atau menimbulkan efek samping bila dipergunakan dalam jangka
waktu lama
6. Tetap
aktif dalam plasma, cairan badan atau eksudat
7. Larut
dalam air serta stabil.
1.
Penicillium
chrysogenum
Jamur
sangat memerlukan bahan makanan yang berbentuk zat organik, selain faktor atau
keadaan lingkungan tertentu, seperti suhu dan pH. Jamur diketahui tidak
berklorofil dan tidak mampu mensintesis makanan sendiri, sehingga bersifat
heterotrof (Makfoeld, 1993).
Penicillium
chrysogenum merupakan kapang (jamur) yang sangat penting dalam industri
fermentasi untuk menghasilkan penisilin. Klasifikasi Penicillium chrysogenum
menurut Anonim (2005) adalah sebagai berikut :
Phyllum : Ascomycota
Classis : Euascomycetes
Ordo : Eurotiales
Familia : Trichomaceae
Genus : Penicillium
Species : Penicillium chrysogenum
Ciri-ciri
spesifik Penicillium adalah hifa bersekat atau septet, miselium bercabang,
biasanya tidak berwarna, konidiofora bersekat atau septet dan muncul di atas permukaan
yang berasal dari hifa di bawah permukaan hifa bercabang atau tidak bercabang,
kepala hifa yang membawa spora berbentuk seperti sapu, dengan sterigmata muncul
dalam kelompok, konidium berbentuk rantai karena muncul satu per satu dari
sterigmata. Konidium pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah
menjadi kebiruan atau kecokelatan (Fardiaz, 1992).
Koloni
Penicillium chrysogenum tumbuh baik pada medium Czapek’s Dox, diameter mencapai
4-5 cm dalam waktu 10 hari (25o C), memiliki permukaan seperti kapas, dan
berwarna hijau kekuningan atau hijau agak biru pucat, sedangkan bila berumur
tua warna akan semakin gelap (Gandjar et al., 1999). Menurut Pitt dan Hocking
(1979), koloni Penicillium chrysogenum tumbuh secara cepat di atas medium standar
pada 25o C, dan pada Czapek’s Yeast Agar (CYA) menghasilkan blue-green
konidium.
2.
Pola Pertumbuhan Penicillium chrysogenum
Definisi pertumbuhan pada organisme
multiseluler (termasuk jamur) adalah peningkatan jumlah sel per organisme,
sehingga ukuran sel juga menjadi lebih besar. Penicillin chrysogenum yang
ditumbuhkan pada media agar SDA selama 7 hari inkubasi. Pemberian nutrien dalam
berbagai komponen dalam medium kultur akan memperpanjang tahap produksi
penisilin dari 120 sampai 180 jam (Crueger dan Crueger, 1990). Pola pertumbuhan
mikrobia terbagi atas empat fase, yaitu fase lag, fase ekponensial, fase
satasioner dan fase kematian. Menurut Fardiaz (1992), pertumbuhan mikrobia
dalam suatu medium diikuti dalam waktu pengamatan yang cukup lama, maka dapat
digambarkan dalam bentuk pola atau fase pertumbuhan yang meliputi :
a. Fase adaptasi yaitu fase pada saat
mikrobia menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan sel-sel mulai membesar
tetapi belum membelah diri
b. Fase pertumbuhan dipercepat yaitu
fase saat mikrobia mulai membelah diri tetapi waktu generasi masih panjang
c. Fase pertumbuhan logaritma yaitu fase
saat kecepatan pembelahan sel paling tinggi dan waktu generasi pendek
d. Fase pertumbuhan yang mulai
menghambat, yaitu fase saat kecepatan pembelahan sel mulai berkurang, jumlah
mikrobia yang mati bartambah banyak karena nutrien mulai berkurang
e. Fase stasioner yaitu fase pertumbuhan
saat kadar nutrien semakin berkurang dan sel tidak tumbuh lagi
f. Fase kematian dipercepat yaitu fase
saat kecepatan kematian meningkat terus dan kecepatan pembelahan sel menjadi
nol.
Menurut Jutono et al., (1980),
pertumbuhan mikrobia di dalam suatu suspensi atau bahan dapat diukur dengan
beberapa cara, yaitu perhitungan massa sel secara langsung dan secara tidak langsung.
Perhitungan jumlah mikrobia secara langsung dipakai untuk menentukan jumlah
mikrobia keseluruhan baik yang mati maupun yang hidup, dengan cara, yaitu
menggunakan counting chamber, pengecatan, dan pengamatan mikroskopik
menggunakan filter membran.
Perhitungan jumlah mikrobia secara tidak
langsung dipakai untuk menentukan jumlah mikrobia keseluruhan baik yang hidup
maupun yang mati atau hanya untuk menentukan jumlah mikrobia yang hidup saja,
tergantung pada cara yang digunakan. Beberapa metode yang digunakan adalah
menggunakan sentrifuge, turbidimetrik berdasarkan analisis kimia, berat kering,
cara pengenceran, Most Probable Number (MPN), dan berdasarkan jumlah koloni
(plate count) (Jutono et al., 1980). Perhitungan secara tubidimetrik atau
perhitungan secara langsung massa sel atau filamen miselium sampel dalam suatu
volume tertentu. Dalam penentuannya, sampel mula-mula disentrifugasi atau
disaring lalu dicuci, dikeringkan dan ditimbang beratnya. Perhitungan secara
langsung sering digunakan untuk pengukuran sel selama proses fermentasi
(Waluyo, 2009).
C. Tinjuan Umum tentang Rhizopus oryzae
Tempe merupakan salah satu makanan
tradisional Indionesia yang sudah dikenal secara global. Beberapa negara
seperti Amerika, Jepang dan Mesir telah memproduksi dan mengkonsumsi tempe
sebagai bahan makanan. Tempe terbuat dari berbagai varietas dan warna kacang
kedelai yang mengalami fermentasi oleh jamur. Makanan ini banyak diminati oleh
masyarakat sebagai lauk-pauk atau camilan. Rasanya khas dan lezat, dan menjadi sumber
protein dalam makanan harian.
Menurut Pawiroharsono (1996),
mikroorganisme yang berperan penting dalam proses pembuatan tempe berasal dari
jamur genera Rhizopus sp. Mikroorganisme ini memiliki koloni heterothalik,
tumbuh cepat ditandai dengan bangunan khas seperti stolon (hifa penghubung
diantara kelompok sporangiophora), rhizoid (bangunan mirip akar yang tumbuh ke
dalam substrat), dan sporangifora (bangunan khusus yang pada ujungnya terdapat
sporangium) yang tumbuh ke atas dengan posisi berlawanan dengan rhizoid. Jumlah
spora yang terbentuk sangat banyak dengan ukuran relatif besar, berbentuk oval
bersudut, tidak beraturan dan sering berkerat-kerat (striated).
Ada tiga spesies Rhizopus yang berperan
penting dalam fermentasi pembuatan tempe, yakni R. oligosporus, R. oryzae dan
R. stolonifer. Ketiga-tiganya punya potensi untuk memfermentasi kedelai menjadi
tempe, walaupun kecepatanya berbeda-beda. R. oligosporus memfermentasi lebih
cepat dibanding R. oryzae dan R. stolonifer, sedangkan R. oryzae lebih cepat
dibanding R. stolonifer (Pawiroharsono, 1996). lain.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. WaktudanTempat
Praktikum ini dilakukan
pada hari Senin, 21 Oktober 2019 dan di laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi
dan Steril Akademi Farmasi Surabaya.
B. Alat
dan Bahan
·
Alat :
1. Cawan
petri
2. Object
Glass
3. Kawat
4. Bunsen
5. Erlenmeyer
6. Batang
pengaduk
7. Kawat
ose
8. Autoclav
9. Kompor
listrik
10. Mikroskop
·
Bahan :
1. Aspergillus
Niger
2. Penicillium
Sp.
3. Tempe
4. Tape
5. NaCl
7. Plastik
wrap
8. Tisu
C. Cara
Kerja
1. PreparasiJamur
-
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah
sterilisasi alat yang diperlukan dalam praktikum ini, kawat dengan bentuk U
diletakkan didalam cawan petri lalu diletakkan object glass di atasnya setelah itu
ditutup. Kemudian dibungkus dengan kertas perkamen 2 lapisandan di sterilisasi pada
autoclav
-
Setelah itu perlu dilakukan pembuatan
medium, untuk kali ini akan menggunakan media SDA. SDA yang ditimbang sebesar
7,8 gram dan dilarutkan dalam Aquadest 120 mL, dilakukan dengan cara aseptis didekat
api Bunsen yang menyala. Setelah tercampur pada Erlenmeyer, dilakukan pemasan diatas
kompor listrik sambil diaduk hingga homogeny dan tidak terjadi gumpalan. Lalu mulut
Erlenmeyer ditutup sumbat dengan bahan kasa dan kapas, kemudian kembali ditutup
dengan kertas perkamen serta diikat dengan benang bol. Setelahnya di
sterilisasi pada autoclave selama 20 menit dengan tekanan 1 atm dan suhu 121˚C,
kemudian di tuang pada cawan petri kosong yang telah steril dan didinginkan hingga
membeku.
- Selanjutnya dilakukan inkubasi jamur,
media SDA yang telah membeku dipotong kecil dan diletakkan pada kedua ujung
object glass kemudian diberi masing-masing cawan petri dengan Aspergillus
Niger, Penicillinum Sp. Dan jamur putih yang terdapat pada tempe. Lakukan inokulasi
tersebut secara aseptis didekat api Bunsen, setelahnya pinggiran cawan petri
dilapisi dengan plastic wrap dan di inkubasi dalam incubator selama kurang lebih
7-10 hari.
- Untuk ragi yang terdapat pada tape tidak
perlu dilakukan inkubasi, hanya dilarutkan gram tape pada NaCl.
2. Pengamatan
-
Pengamatan dilakukan saat jamur yang
telah di inkubasi tumbuh.
- Bersihkan masing-masing object glass dan
cover glass dengan alcohol dan keringkan dengan tisu.
- Kembali dilakukan dengan cara aseptis pengambilan
jamur yang telah di inkubasi pada cawan petri dengan menggunakan kawat ose,
setelahnya diletakkan diatas object glass yang telah ditetesi NaCl lalu di
tutup dengan cover glass. Untuk tape, dilakukan dengan pengambilan 1-2 tetes pada
larutan atas yang telah dibuat dan diletakkan diatas object glass lalu ditutup
cover glass.
- Setelahnya di amati dengan menggunakan mikroskop.
- Temukan dengan jelas struktur badan jamur
pada sampel.
- Foto dan gambar hasil tersebut, lalu beri
keterangan nama sesuai dengan bagiannya.
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini
kami melakukan pengamatan adanya mikroorganisme pada air. Sampel yang kami
gunakan yaitu air PDAM , air sumur, air selokan/got, dan air sungai.
|
No.
|
Jenis Air
|
Gambar Mikroorganisme
|
|
1.
|
Air
PDAM
Cryptosporidium
|
|
|
2.
|
Air
Sumur
Amoeba
|
|
|
3.
|
Air
Selokan/got
|
|
|
4.
|
Air
Sungai
Protozoa
|
|
A. Air
Sungai
Pada pengamatan
air sungai secara fisik berwarna keruh karena bercampur dengan pasir, lumpur,
pelapukan kayu, dan pencemar lainnya. Kualitas air sungai juga dipengaruhi oleh
lingkungan di sekitar aliran sungai. Hasil pengamatan mikroorganisme pada air
sungai kami terdapat mikrorganisme protozoa Synura
sp. Protozoa ini tergolong dalam alat gerak flagellata.
Klasifikasi
Synura sp
Divisi
: Chrysophyta
Class
: Chrysophyceae
Ordo
: Synurales
Family
: Synuraceae
Genus
: Synura
Species
: Synura sp
B. Air
PDAM
Pada
pengamatan air PDAM secara fisik berwarna jernih. Hasil pengamatan
mikroorganisme pada air PDAM kami terdapat mikrorganisme Cryptosporidium.
Klasifikasi
Kingdom : Prostita
Filum :
Apicomplexa
Kelas :
Conoidasida
Subkelas
: Coccidiasina
Ordo :
Eucoccidiorida
Subordo :
Elmeriorina
Family :
Cryptosporidiidae
Genus : Cryptosporidium
C. Air
sumur
Pada air sumur secara
fisik berwarna jernih sedikit keruh. Hasil pengamatan mikroskopis pada air
sumur terdapat mikroorganisme amoeba. Amoeba adalah salah satu bentuk yang
paling sederhana dari organisme eukariotik di Bumi,sering dianggap sebagai
organisme perwakilan proses evolusi.
Klasifikasi
Amoeba
Domain
: Eukaryota
Kingdom :
Amoebozoa
Filum
: Tubulinea
Ordo : Tubulinida
Keluarga
: Amoebida
Genus :
Amoeba
D. Air
got/selokan
Pada pengamatan
air got secara fisik berwarna keruh dan banyak terdapat kotoran pasir dll..
Hasil pengamatan mikroorganisme pada air got kami terdapat mikrorganisme
protozoa
BAB VI
Daftar Pustaka

Komentar
Posting Komentar