LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
METODE ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT)/
TOTAL PLATE COUNT (TPC)
Disusun oleh:
KELOMPOK
6
Mohammad Saleh
Helmi 135180298
Khoviva Eka Permata Sari 135180311
Savira Putri Prasditya
135180313
Indah Pratiwi 135180314
Hesti Nova Azizah 1351810312
Evi Tayakun Mahmuda 1351810381
Gadyz Aulya Hidayat 1351810388
KELAS A418
AKADEMI FARMASI SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
.Jamu
gendong merupakan ciri khas yang sangat terkenal di Indonesia. Produk jamu
gendong merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia. Dalam perkembangannya jamu
gendong merupakan suatu pemanfaatan dari tanaman obat. Pengobatan secara
tradisional sudah dikenal oleh masyarakat sejak jaman dahulu yang diturunkan
dari generasi ke generasi. Mereka menggunakan obat tradisional, termasuk jamu
gendong untuk menjaga kesehatan (Pratiwi, 2005).
Salah satu contoh dari jamu gendong adalah sinom. sinom merupakan
minuman yang sangat populer di masyarakat. Sinom di produksi menggunakan bahan
yang sangat mudah dijumpai di lingkungan sekitar yaitu daun asem jawa yang
masih muda yang masih mempunyai kadar antioksidan yang tinggi. Sinom merupakan
minuman yang dihasilkan dari daun pohon asam yang masih muda, karena pada daun
ini mengandung senyawa kimia yang bermanfaat bagi kesehatan seperti seperti
saponin, flavonoid dan tanin. Senyawa aktif flavonoid dan tanin bermanfaat
untuk peluruhan lemak (Achlana, 2013).
Jamu dapat rusak dan berubah mutunya karena berbagai faktor luar
seperti cahaya, oksigen, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serapan
serangga, kapang. Dengan adanya faktor yang dapat menurunkan mutu jamu serbuk
maka penting untuk mengetahui faktor yang membantu melindungi kestabilan mutu
jamu, seperti lama penyimpanan dan tempat penyimpanan jamu yang benar sehingga
mutu jaminan dapat tercapai optimal.
jamu gendong yang di jual oleh penjual jamu gendong ternyata
sebagian besar telah terkontaminasi mikroba. Ditinjau dari peneliti sebelumnya
Isnaeni Retno Wulandari pada bulan juli tahun 2013, menjelaskan bahwa sebagian
besar jamu Rajang yang di teliti di daerah istimewa Yogyakarta menunjukan
jumlah kontaminasi bakteri yang melebihi standar batas cemaran mikroba yang
ditetapkan SNI 19-2987-1992 untuk uji jumlah bakteri ( <10⁶
koloni per ml), Yakni dari uji ALT diperoleh hasil bahwa sebesar 69% sampel
jamu Rajang memiliki ALT yang tidak memenuhi syarat dan hanya 31% saja sampel
yang ALT-nya memenuhi syarat, Dari hasil uji tersebut menunjukkan bahwa
sebagian besar sampel jamu rajangan yang diproduksi di Daerah Istimewa
Yogyakarta memiliki ALT yang tidak memenuhi syarat, sehingga jika dilihat dari
aspek cemaran mikroba khususnya ALT jamu rajangan tidak aman untuk dikonsumsi.
Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang
ada pada suatu sampel, umumnya dikenal dengan Angka Lempeng Total (ALT). Uji
Angka Lempeng Total (ALT) dan lebih tepatnya ALT aerob mesofil atau anaerob
mesofil menggunakan media padat dengan hasil akhir berupa koloni yang dapat
diamati secara visual berupa angka dalam koloni (cfu) per ml/gram atau
koloni/100ml. Cara yang digunakan antara lain dengan cara tuang, cara tetes,
dan cara sebar (BPOM, 2008).
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah sinom yang di jual di daerah Siwalankerto terdapat cemaran
bakteri ?
2.
Apakah ada pengaruh terhadap tubuh bila sinom terdapat cemaran
bakteri ?
1.3
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui apakah terdapat cemaran bakteri pada sinom yang di
jual di daerah Siwalankerto, dengan metode Angka Lempeng Total (ALT)
2.
Untuk mengetahui pengaruh bagi tubuh bila sinom terdapat cemaran.
1.4
Manfaat penelitian
1.
Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang
mikrobiologi, termasuk bakteri yang ada dalam sinom .
2.
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan evaluasi
terhadap keamanan dan mutu obat tradisional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Angka Lempeng Total (ALT)
2.1 Definisi Angka Lempeng Total (ALT)
Angka lempeng total adalah
angka yang menunjukkan jumlah bakteri mesofil
dalam tiap-tiap 1 ml atau 1 gram sampel makanan yang diperiksa. Prinsip dari ALT adalah menghitung pertumbuhan koloni bakteri aerob
mesofil setelah sampel makanan ditanam pada lempeng media yang
sesuai dengan cara tuang kemudian dieramkan selama 24-48 jam pada suhu 35-37⁰C (Joko Wibowo Ristanto, 1989)
2.1.2Teknik
Perhitungan Angka Lempeng
Uji angka lempeng total dapat
dilakukan dengan dua teknik yaitu teknik cawan tuang (pour plate)
dan teknik sebaran (spread plate) Pada prinsipnya dilakukan pengenceran terhadap sediaan yang diperiksa kemudian
dilakukan penanaman pada media lempeng agar. jumlah koloni bakteri yang
tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah inkubasi pada suhu dan waktu yang
sesuai. Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni bakteri antara
30-300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah
koloni bakteri hasil perhitungan dikalikan faktor pengenceran.
jika sel jasad renik yang masih
hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel jasad renik tersebut akan
berkembang biak membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dapat dihitung
dengan menggunakan mata tanpa mikroskop. Metoda
hitungan cawan merupakan cara yang paling
sensitive untuk menentukan jumlah jasad renik karena beberapa hal yaitu:
1.
Hanya sel yang masih hidup yang dapat dihitung.
2.
Beberapa jenis jasad renik dapat dihitung satu kali.
3.
Dapat digunakan untuk isolasi dan identitas jasad renik karena
koloni yang terbentuk mungkin berasal dari jasad renik yang menetap
menampakkan Pertumbuhan yang spesifik.
2.1.1
Persyaratan Perhitungan Angka Lempeng Total
Adanya jumlah angka lempeng total yang ditemukan pada suatu
sampel dapat dijadikan acuan bahwa sampel tersebut masih layak untuk atau
tidak. Adapun untuk batas persyaratan perhitungan dari angka lempeng total
adalah:
1.
Mikroba yang dapat dihitung 30-300 koloni
2.
< 30 koloni,dianggap cemaran
3.
> 300 koloni spreader atau tak terhingga sehingga tak dapat
dihitung
4.
Jumlah bakteri adalah jumlah koloni x factor pengenceran
5.
Perbandingan jumlah bakteri dari pengenceran berturut-turut
antara pengenceran yang akhir dengan pengenceran yang sebelumnya. Jika
sama atau kurang dari 2 maka hasilnya dirata-rata. jika lebih
dari 2 digunakan pengenceran sebelumnya.
2.1.4
Keuntungan Dan Kelemahan dari ALT
Keuntungan dari metode pertumbuhan
agar atau metode uji Angka Lempeng Total adalah dapat mengetahui jumlah mikroba
yang dominan. Keuntungan lainnya dapat diketahui adanya mikroba jenis lain yang
terdapat dalam contoh.
Adapun kelemahan
dari metode ini adalah :
1.
Kemungkinan terjadinya koloni yang berasal lebih dari satu sel
mikroba.seperti pada mikroba yang berpasangan, rantai atau kelompok sel.
2.
Kemungkinan ini akan memperkecil jumlah sel mikroba yang
sebenarnya. Kemungkinan adanya jenis mikroba yang tidak dapat
tumbuh karena penggunaan jenis media agar, suhu, Ph, atau kandungan oksigen
selama masa inkubasi.
3.
kemungkinan ada jenis mikroba tertentu yang tumbuh menyebar diseluruh permukaan
media agar sehingga menghalangi mikroba lain. Hal ini akan
mengakibatkan mikroba lain tersebut
tidak terhitung
4.
Penghitungan dilakukan pada media agar yang jumlah populasi
mikrobanya antara 30-300 koloni. Bila jumlah populasi kurang dari 30 koloni
akan menghasilkan perhitungan yang kurang teliti secara statistik, namun bila
lebih dari 300 koloni akan menghasilkan hal yang sama karena terjadi persaingan
diantara koloni.
5.
Perhitungan populasi mikroba dapat dilakukan setelah masa inkubasi
yang umumnya membutuhkan waktu 24 jam atau lebih (Buckle,1987)
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
A.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakukan pada hari
Senin tanggal 2 Desember 2019 dan dilaksanakan pada Laboratorium Mikrobiologi
Akdemi Farmasi Surabaya.
B.
Sterilisasi
Sterilisasi pada pratikum ini
dilakukan dengan cara kering dan basah, baik dengan autoclave maupun dengan
oven. Alat-alat yang memiliki akurasi tinggi seperti gelas ukur, pipet ukur,
blue/yellow tip serta media bisa dilakukan sterilisasi basah dengan menggunakan
autoclave pada suhu 121˚C dan tekanan 1 atm dalam 20 menit. Sedangkan alat-alat
yang memiliki akurasi rendah di sterilisasi dengan oven pada suhu 180˚C selama
2 jam yang meliputi cawan petri, tabung reaksi, gelas arloji, batang pengaduk,
Erlenmeyer, beaker glass dan lain sebagainya.
C.
Pembuatan Media Nb
Alat yang digunakan adalah gelas arloji,
Bladder, batang pengaduk, gelas ukur,
Erlenmeyer, beaker glass, tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet ukur,
korek api, tisu. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Nb, alcohol 70%,
aquadestilata, sumbat dari kasa dam kapas, perkamen, tali dan plastic wrap..
Cara pembuatan dilakukan dengan
menyiapkan meja kerja yang telah steril kemudian menimbang Nb pada timbangan
digital menggunakan gelas arloji, selanjutnya nyalakan api bladder dengan korek
api dan diteruskan dengan kerja aseptic. Flamber ujung kaca arloji, batang
pengaduk dan Erlenmeyer secara bergantian, masukkan Nb dalam Erlenmeyer dengan
batang pengaduk. Flamber kembali ujung mulut gelas ukur dan beakerglass, ukur
aquadest dan pindahkan dari beaker glass ke gelas ukur. Flamber ulan Erlenmeyer
dan gelas ukur, pindahkan aquadest yang telah diukur pada Erlenmeyer kemudian
aduk dengan batang pengaduk. Tutup dengan sumbat dan beri perkamen diatasnya
kemudian diikat dengan tali hingga rapat, selanjutnya sterilkan pada autoclave.
Langkah selanjutnya penuangan media Nb pada tabung reaksi, siapkan
meja kerja yang steril dan lakukan semua perlakuan secara aseptic. Buka penutup
Erlenmeyer yang telah terdapat media Nb, nyalakan api bladder dengan korek api.
Flamber ujung mulut Erlenmeyer dan pipet ukur, kemudian pindahkan media Nb dan
ukur selanjutnya masukkan dalam tabung reaksi. Tutup tabung reaksi dengan
sumbat dan lapisi kembali dengan plastic wrap, lakukan penuangan hingga pada 5
tabung reaksi. Terakhir, inkubasi selama 24 jam.
D.
Pembuatan Media Na
Alat yang digunakan adalah gelas
arloji, Bladder, batang pengaduk, gelas ukur,
Erlenmeyer, beaker glass, cawan petri, pipet ukur, korek api, tisu.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah Nb, alcohol 70%, aquadestilata, sumbat
dari kasa dam kapas, perkamen, tali dan plastic wrap..
Cara pembuatan dilakukan dengan
menyiapkan meja kerja yang telah steril kemudian menimbang Na pada timbangan
digital menggunakan gelas arloji, selanjutnya nyalakan api bladder dengan korek
api dan diteruskan dengan kerja aseptic. Flamber ujung kaca arloji, batang
pengaduk dan Erlenmeyer secara bergantian, masukkan Na dalam Erlenmeyer dengan
batang pengaduk. Flamber kembali ujung mulut gelas ukur dan beakerglass, ukur
aquadest dan pindahkan dari beaker glass ke gelas ukur. Flamber ulang Erlenmeyer
dan gelas ukur, pindahkan aquadest yang telah diukur pada Erlenmeyer kemudian
aduk dengan batang pengaduk. Berikutnya dipanaskan diatas kompor untuk
mengaktifkan agarnya hingga mendidih dan berubah warna dari keruh ke kuning
yang bening. Tutup dengan sumbat dan beri perkamen diatasnya kemudian diikat
dengan tali hingga rapat, selanjutnya sterilkan pada autoclave.
Langkah selanjutnya penuangan media
Na pada cawan petri, siapkan meja kerja yang steril dan lakukan semua perlakuan
secara aseptic. Buka penutup Erlenmeyer yang telah terdapat media Na, nyalakan
api bladder dengan korek api. Flamber ujung mulut Erlenmeyer dan pipet ukur,
kemudian pindahkan media Na dan ukur selanjutnya masukkan dalam cawan petri
yang sebelumnya telah diflamber keseluruhan penutupnya. Lapisi pinggiran cawan
petri dengan plastic wrap, lakukan penuangan hingga pada 5 cawan petri.
Terakhir, lakukan inkubasi selama 24 jam.
E.
Pembuatan Larutan Induk Sampel
Alat yang digunakan adalah bladder,
korek api, Erlenmeyer, batang pengaduk, pipet ukur, gelas ukur dan gelas
arloji. Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel yang berupa sinom,
aquadest, alcohol 70%, sumbat dari kapas dan kasa.
Sampel yang digunakan adalah sinom yang berbentuk cair maka perlu
di ad kan hingga 100 mL, maka sinom yang diambil sebesar 10 mL dan aquadest 90
mL. Lakukan secara aseptic, siapkan meja kerja yang telah steril dengan
alcohol. Nyalakan api bladder dengan korek api, flamber pipet ukur kemudian
ambil sampel sebanyak 10 mL. Flamber ujung mulut Erlenmeyer dan pipet ukur,
pindahkan sampel dari pipet ukur kedalam Erlenmeyer. Flamber ujung mulut gelas
ukur, beaker glass dan Erlenmeyer, ukur aquadest dari beaker glass dengan gelas
ukur kemudian masukkan dalam Erlenmeyer. Falmber batang pengaduk, aduk dekat
dengan api larutan induk sampel hingga homogen dengan batang pengaduk
selanjutnya tutup dengan sumbat.
F.
Pengenceran
Alat yang digunakan adalah bladder,
korek api, mikro pipet dengan blue tipe dan vortex. Sedangkan bahan yang
digunakan adalah media Nb yang sebelumnya telah dibuat dan telah diinkubasi
selama 24 jam, larutan induk sampel, sumbat dari kasa dan kapas, dan plastic
wrap serta kertas label.
Kembali lakukan semua perlakuan secara aseptic, siapkan meja kerja
yang telah steril. Sebelumnya buka semua penutup pada tabung reaksi yng telah
terdapat media Nb kemudian beri label setiap pengencerannya agar tidak
tertukar, kemudian nyalakan api bladder dengan korek api. Flamber Erlenmeyer
yang telah terdapat larutan induk sampel, pipet dengan mikro pipet dan blue
tipe sebanyak 1 mL kemudian flamber tabung reaksi dan pindahkan hasil pipet
kedalam tabung reaksi yang telah diberi label pengenceran 1 selanjutnya
homogenkan dengan vortex selama 1 menit. Lakukan perlakuan sebelumnya pada
tabung reaksi pengenceran 1 ke dalam tabung reaksi pengenceran 2, begitu
seterusnya hingga tabung reaksi pengenceran yang ke5. Tutup dengan sumbat dan
lapisi kembali dengan plastic wrap kemudian inkubasi kembali selama 24 jam.
G.
Inokulasi
Alat yang digunakan adalah bladder,
korek api, spreader, mikro pipet dengan yellow tipe. Sedangkan bahan yang
digunakan adalah hasil pengenceran yang sebelumnya telah dibuat dan media Na
dalam cawan petri yang sebelumnya telah dibuat dan diinkubasi selama 24 jam.
Kembali lakukan semua perlakuan
secara aseptic, siapkan meja kerja yang telah steril. Sebelumnya buka semua
penutup pada cawan petri yang telah terdapat media Na kemudian beri label
setiap pengencerannya agar tidak tertukar, kemudian nyalakan api bladder dengan
korek api. Sebelum perlakuan, perlu diingat jika setiap label antara tabung
reaksi dengan cawan petri haruslah sama, misalkan pada tabung reaksi
pengenceran 1 haruslah dituang sama pada cawan petri pengenceran 1 juga dan
begitu seterusnya hingga pengenceran 5 karena inokulasi ini dilakukan untuk
mengembangkan biakan setiap pengenceran pada media agar. Flamber ujung tabung
reaksi, kemudian pipet 0,1 mL dengan mikro pipet dan yellow tipe. Flamber cawan
petri dan spreader, masukkan hasil pipet dalam cawan petri kemudian ratakan
keseluruh permukaan media agar dengan spreader. Lakukan kembali perlakuan
sebelumnya hingga pada pengenceran kelima, inkunasi kembali selama 24 jam.
H.
Pengamatan
Setelah perlakuan yang bertahap dan
begitu panjang perlu dilakukan tahap yang terakhir yaitu pengamatan, pengamatan
ini dilakukan secara makroskopis dengan mikroskopis. Pengamatan secara
makroskopis dilakukan dengan melihat langsung dengan mata meliputi bentuk
koloni, warna, margin, elevasi.
Sedangkan pengamatan secara mikroskopis dengan menggunakan
mikroskop dan alat bantu objek dan cover glass, sebelumnya bersihkan dan
sterilkan object dan cover glass dengan menggunakan alcohol 70% kemudian
tempelkan koloni cemaran pada media agar yang telah diinkubasi selama 24 jam
pada kaca objek dan beri sedikit aquadest selanjutnya usap serta sedikit
keringkan diatas api bladder. Tetesi dengan Kristal violet dan tunggu hingga 1
menit. Setelahnya beri lugol sebanyak 1 tetes dan tunggu kembali selama 1 menit
bersihkan dengan alcohol 70% dan tunggu selama 30 detik, terakhir beri safranin
dan tunggu selama 1 jam kemudian bilas dengan aquadest dan tutup dengan cover
glass. Lakukan pengamatan dibawah mikroskop meliputi warna untuk melihat jenis
gramnya. Foto dan catat hasil pengamatan kemudian simpulkan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada
penelitian ini dilakukan pemeriksaan Angka Lempeng Total yaitu menghitung
jumlah koloni yang tumbuh pada media dari pengenceran sampel. Pengenceran
bertujuan untuk mengurangi jumlah populasi mikroorganisme karena tanpa
dilakukannya pengenceran koloni yang tumbuh akan menumpuk sehingga akan
menyulitkan dalam perhitungan jumlah koloni Perhitungan angka lempeng total
mikroorganisme dipilih dari cawan petri yang jumlah koloninya antara 30- 300.
Hal ini dikarenakan media agar dengan jumlah koloni tinggi (> 300 koloni)
tidak sah dihitung sehingga kemungkinan besar kesalahan perhitungan sangat
besar sedangkan jumlah untuk koloni sedikit (< 30 koloni) tidak sah dihitung
secara statistik. Pada penentuan angka lempeng total ini, digunakan metode
spread plate jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada media agar dihitung setelah
diinkubasi pada suhu 35-45°C selama 24 jam. Dimaksud dengan total count yaitu
kalau perhitungan jumlah tidak berdasarkan kepada jenis, tetapi secara kasar
terhadap golongan atau kelompok besar mikroorganisme umum seperti bakteri,
fungi ataupun terhadap kelompok bakteri tertentu. Total count bacteria misalnya
ditentukan berdasarkan penanaman bahan dalam jumlah dan pengenceran tertentu ke
dalam media yang umum untuk bacteria. Setelah melalui masa inkubasi pada
temperature kamar selama waktu maksimal 2 x 24 jam, perhitungan koloni
dilakukan. Dianggap bahwa tiap koloni berasal dari sebuah sel, maka jumlah
koloni dapat diperhitungkan sebagai jumlah sel mewakili dan terdapat di dalam
bahan yang dianalisis.
Jenis
media yang digunakan untuk perhitungan total count kelompok lain, pada dasarnya
berbentuk media selektif atau pengaya. Karena sifat selektifitas dari media,
pada akhirnya kalaupun ada bacteria yang tidak diharapkan dapat tumbuh dan
berkembang didalamnya, selain memerlukan waktu yang cukup lama (diatas 10 x 24
jam) juga koloni yang kemudian terbentuk tidak dapat menjadi besar dan mudah
hilang dari pengamatan dengan menggunakan mata biasa. Pada umumnya karena
kelompok bacteria tertentu memerlukan masa adaptasi/ aklimatisasi terlebih
dahulu, inkubasi di dalam temperature kamar memerlukan waktu antara 4-6 x 24
jam baru koloni akan tampak jelas pertumbuhannya Total count terhadap bakteri
pathogen, khususnya untuk penyebab penyakit perut, seperti tifus, paratifus,
kolera, disentri, dsb, yang disebabkan oleh Salmonella, shigella dan Vibrio,
juga memerlukan media pengaya dan media selektif. Total count terhadap bakteri
penghasil racun, khususnya yang menyebar melalui air dan mengenai bahan makanan
dan disebabkan oleh bakteri aerobic (Pseudomonas, Staphylococcus) dan anaerob
(Clostridium) serta total count dan identifikasi jenis-jenis fungi penghasil
mikotoksin khususnya yang termasuk kelompok Aspergillus, Penicillium, dan
fusarium, juga sama seperti untuk golongan pathogen. Dari beberapa hasil
penelitian mengungkapkan bahwa pada lingkungan yang jelek populasi dan jumlah
jenis mikroorganisme tersebut sangat tinggi, sehinga kasus atau gejala penyakit
dan keracunan juga sangat tinggi. Khusus untuk fungi penghasil mikotoksin
sangat ditakuti pertumbuhannya pada bahan makanan, karena akan menghasilkan
racun jamur (mikotoksin) yang bersifat karsinogenik (dapat merangsang
terjadinya kanker, terutama pada kanker hati).
Keberhasilan
analisi terhadap kelompok pathogen dan penghasil toksin, baru dapat berhasil
kalau menggunakan media pengaya dan selektif. Hal ini mengingat pula bahwa
kemungkinan besar kehadiran kelompok tersebut di dalam substrat sangat sedikit
atau jarang jumlahnya Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah koloni
yang terdapat pada sampel dengan metode hitung cawan angka lempeng total.
Adapun sampel yang digunakan adalah pada minuman sinom sebanyak 1 sampel yang
diambil dari daerah Siwalankerto. Dari penelitian yang telah dilakukan
didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa pada minuman sinom Dari penelitian yang dilakukan
didapatkan hasil bahwa
dari sampel sinom tersebut terdapat satu cawan yang tidak memenuhi standar dan empat cawan yang memenuhi
standar nasional Indonesia (SNI) dimana
batas cemaran mikroba untuk jamu adalah
106cfu/ml. Jumlah
Angka Lempeng Total dari 5 cawan petri berisi SDA ialah SDA 102
adalah 6,5 x 102 cfu/ml, SDA 103 adalah 3,4 x 103
cfu/ml, SDA 104 adalah 2,5 x 104 cfu/ml, SDA 105
adalah 1,4 x 105 cfu/ml, SDA 106 adalah 1,2 x 106
cfu/ml tidak melampaui batas cemaran yang ditetapkan oleh Standar
Nasional Indonesia (SNI).
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan
data dapat disimpulkan bahwa:
1.
Dari penelitian sampel sinom terdapat satu cawan yang tidak memenuhi standar dan empat cawan yang memenuhi
standar. Yang mana batas cemaran mikroba jamu adalah 106cfu/ml.
2.
Jumlah Angka Lempeng Total dari 5 cawan petri berisi SDA ialah SDA 102
adalah 6,5 x 102 cfu/ml, SDA 103 adalah 3,4 x 103
cfu/ml, SDA 104 adalah 2,5 x 104 cfu/ml, SDA 105
adalah 1,4 x 105 cfu/ml, SDA 106 adalah 1,2 x 106
cfu/ml tidak melampaui batas cemaran yang ditetapkan oleh Standar Nasional
Indonesia (SNI).
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, S. T.
2005. Pengujian Cemaran Bakteri dan Cemaran Kapang/Khamir Pada Produk Jamu
Gendong di Daerah Istimewa Yogyakarta. PHARMACON, Vol. 6, No. 1, Juni 10–15.
Putriana F.,
Herdini, dan Sugoro I. 2013. ANALISIS CEMARAN MIKROBA PADA SEDIAAN JAMU GENDONG
DI SEKITAR TERMINAL LEBAK BULUS WILAYAH JAKARTA SELATAN. Studi Kasus pada Jamu
Gendong dari Dua Orang Penjual Jamu (online:
http://repository.ut.ac.id/2525/1/fmipa2013_b6_fauziahpherdini_1.pdf
) diakses pada 12 desember 2019
Buckle,K.A.1987.Ilmu Pangan.Universitas Indonesia Press:
Jakarta.


Komentar
Posting Komentar