LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
UJI POTENSI SENYAWA ANTI MIKROBA

Disusun oleh:
KELOMPOK 6
Mohammad Saleh Helmi         135180298
Khoviva Eka Permata Sari       135180311
Savira  Putri Prasditya             135180313
Indah Pratiwi                           135180314
Hesti Nova Azizah                  1351810312
Evi Tayakun Mahmuda          1351810381
Gadyz Aulya Hidayat               1351810388
KELAS A418
AKADEMI FARMASI SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor – faktor lingkungan, tetapi juga akan mempengaruhi keadaan lingkungan. Misal bakteri Termogenesis menimbulkan panas di dalam media tempat ia tumbuh. Bakteri dapat pula mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor – faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor – faktor biotik dan faktor – faktor abiotic.
Antiseptic adalah larutan antimikroba yang digunakan untuk mencegah infeksi, sepsis, dan putrefaksi. Antiseptic berbeda dengan antibiotic dan disinfektan, yaitu antibiotic digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Beberapa antiseptic merupakan germisida, yaitu mampu membunuh mikroba, dan ada pula yang hanya mencegah atau menunda pertumbuhan mikroba tersebut.         
Pada umunya metode yang digunakan didalam uji sensitivitas bakteri adalah metode difusi agar yaitu dengan cara mengamati daya hambat pertumbuhan mikroorganisme oleh ekstrak yang diketahui dari daerah disekitar kertas cakram (paper disk) yang tidak ditumbuhi oleh mikroorganisme. Zona hambat pertumbuhan inilah yang menunjukkan sensivitas bakteri terhadap bahan antibakteri.
Berdasarkan daya kerjanya, senyawa antibakteri dibagi menjadi dua sifat, yaitu :
a.       Zat yang hanya bersifat menghambat pertumbuhan bakteri dengan tidak membunuhnya.
b.      Zat yang dapat membunuh bakteri (bacteriosidal) (Dwidjoseputro,2005)
Untuk menghindari pengaruh yang tidak diinginkan dari bakteri-bakteri tersebut salah satu cara yang paling umum digunakan adalah memanfaatkan cairan pembersih baik berupa detergen, sabun mandi ataupun sabun pencuci tangan terutama yang bersifat antibakteri. Oleh karena itu tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antimikroba beberapa jenis cairan pembersih antibakteri terhadap bakteri.
1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh aktivitas Sabun Pigeon sebagai antiseptik dengan berbagai konsentrasi terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa?
1.3  Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh aktivitas Sabun Pigeon sebagai antiseptic dengan berbagai konsentrasi terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa?
1.4  Manfaat
Praktikum ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai manfaat Sabun Pigeon sebagai antiseptik dalam menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Sabun
Sabun adalah garam natrium dan kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang digunakan sebagai pembersih dapat berwujud padat (keras), lunak dan cair.
2.2  Sabun Pigeon
Pigeon facial foam adalah sabun pembersih wajah dengan kandungan ektrak jojoba dan chamomile yang diformulasikan untuk menjaga kelembaban kulit serta melindungi kulit dari iritasi ringan serta cocok dan aman untuk semua jenis kulit. Terbuat dari bahan alami yang lembut untuk mem bersihkan wajah, serta ekstrak bunga chamomile yang mengandung antioksidan mampu menangkal radikal bebas pada kulit.
2.3  Bakteri Pseudomonas aeruginosa
Pseudomonas aeruginosa merupakan batang gram negatif berbentuk batang lurus dan lengkung, berukuran sekitar 0,6 x 2µm. dapat ditemukan satu-satu, berpasangan dan kadang-kadang berbentuk rantai pendek, tidak mempunyai spora, tidak mempunyai selubung (sheath), serta mempunyai flagel monotrika (flagel tunggal pada kutub) sehingga selalu bergerak.
Pseudomonas aeruginosa pada biakan dapat membentuk berbagai jenis koloni. Pseudomonas aeruginosa dari jenis koloni yang berbeda, juga dapat mempunyai aktivitas biokimia dan enzimatik yang berbeda dan pola kerentanan antimikroba yang berbeda pula. Pseudomonas aeruginosa dapat tumbuh dengan baik pada suhu 37-42˚C, pertumbuhannya pada suhu 42˚C membantu membedakan spesies ini dari spesies pseudomonas yang lain dalam kelompok fluorosensi. Bakteri ini dapat bersifat oksidase-positif, dan tidak memfermentasi karbohidrat tetapi banyak strain yang mengoksidasi glukosa.
2.4  Uji Potensial
Uji potensi antimikroba dapat dilakukan dengan dua macam metode, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Cara pengujian potensi (daya atau kekuatan) senyawa antimikroba ada bermacam-macam, bergantung pada sifat dan bentuk sediaan senyawa antimikroba.
Prinsip kerja difusi adalah terdifusinya senyawa antimikroba (misalnya antibiotic) kedalam media padat dimana mikroba uji (misalnya bakteri patogen) telah diinokulasikan. Metode difusi dapat dilakukan secara paper disk dan sumuran. Pada metode difusi secara paper disk, kertas disk yang mengandung senyawa anti mikroba diletakkan diatas permukaan media agar yang telah ditanam mikroba uji, setelah itu hasilnya dibaca. Penghambatan pertumbuhan mikroba terlihat sebagai zona jernih di sekitar pertumbuhan mikroba.
Metode difusi secara sumuran dilakukan dengan membuat sumuran dengan diameter tertentu pada media agar yang telah ditanami mikroba uji. Antimikroba diinokulasikan ke dalam sumuran ini dan diinkubasikan, setelah itu hasilnya dibaca seperti pada difusi secara paper disk. Luasnya zona jernih merupakan petunjuk kepekaan mikroba terhadap antibiotic. Selain itu, luasnya zona jernih juga berkaitan dengan kecepatan berdifusi antibiotic dalam media.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Alat dan Bahan
3.1.1        Alat yang Digunakan
1.      Batang pengaduk
2.       Cawan petri
3.       Lampu spiritus
4.       Ose bulat
5.       Pinset
6.       Rak tabung Reaksi
7.       Spoit
8.       Tabung reaksi
9.       Piper dist /blang dist
10.    Label
11.    Swab steril
12.    Korek
3.1.2        Bahan yang Digunakan
1.      Sabun Pigeon
2.      Aqua destilata
3.      Mikroba uji Pseudomonas aeruginosa
4.      Media NA
3.2  Prosedur Kerja
3.2.1        Sterilisasi Alat
Ø  Bungkus alat dengan kertas yang akan disterilisasi seperti cawan petri, tabung reaksi, erlenmeyer, gelas ukur, objek gelas dan penutupnya serta pipet tetes.
Ø  Setelah dibungkus kertas, selanjutnya dimasukkan dalam autoklaf. Sterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit.
3.2.1        Uji Potensial Sabun Cuci Pigeon
Ø  Siapkan 3 cawan petri yang sudah di sterilkan
Ø  Diberi label dibawah cawan petri untuk mempermudah pengamatan
Ø  Ditimbang sampel Sabun Pigeon sebanyak 10 g, dibuat pengenceran dalam 10ml dengan menggunakan air steril
Ø  Diambil piper disk lalu dimasukkan/direndam dalam masing-masing pengenceran sabun cuci Pigeon dan air steril sebagai contoh negatif
Ø  Dituang media NA kedalam cawan petri secukupnya biarkan sampai padat
Ø  Dioleskan bakteri Pseudomonas Aerus menggunakan swab steril
Ø  Dimasukan piper dist yang telah direndam dengan menggunakan pinset diletakkan pada permukaan agar NA dan sedikit ditekan agar melekat sempurna dan tidak bergeser
Ø  Diinkubasi selama 1x24 jam pada suhu 37°C.
Ø  Diamati zona hambat yang terbentuk dan dilakukan pengukuran garis tengah dengan menggunakan penggaris.
Ø  Dihitung potensi sabun cuci Pigeon dari hasil pengukuran.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.3      Hasil Pengamatan

















3.4      Pembahasan
Uji potensi antimikroba dapat dilakukan dengan dua macam metode, yaitu metode difusi dan metode dilusi. Cara pengujian potensi (daya atau kekuatan) senyawa antimikroba ada bermacam-macam, bergantung pada sifat dan bentuk sediaan senyawa antimikroba.
Prinsip kerja difusi adalah terdifusinya senyawa antimikroba (misalnya antibiotic) kedalam media padat dimana mikroba uji (misalnya bakteri patogen) telah diinokulasikan. Metode difusi dapat dilakukan secara paper disk dan sumuran. Pada metode difusi secara paper disk, kertas disk yang mengandung senyawa anti mikroba diletakkan diatas permukaan media agar yang telah ditanam mikroba uji, setelah itu hasilnya dibaca. Penghambatan pertumbuhan mikroba terlihat sebagai zona jernih di sekitar pertumbuhan mikroba.
Pada praktikum kali ini dilakukan Uji Potensial dengan metode difusi secara paper disk yang ditetesi dengan Sabun Pigeon pada media NA yang telah berisi bakteri Pseudomonas aeruginosa, dibuat dalam lima konsentrasi yaitu konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% didapatkan hasil diameter zona jernih berturut-turut sebesar 0,63cm, 0,605cm, 0,555cm, 0,655cm, dan 0,5775cm serta control negative pada posisi tengah media yang hanya berisisikan Aquadest.
Zona hambat terjadi karena antimikroba akan mengakibatkan pembentukan cincin-cincin hambatan didalam area pertumbuhan bakteri yang padat sehingga taka da bakteri yang tumbuh di dalam cincin tersebut. Keampuhan suatu antimikroba dapat dilihat dari seberapa besar zona jernih yang terbentuk akibat berdifusinya zat antimikroba tersebut. Seperti halnya Sabun Pigeon yang mampu menghambat bakteri Pseudomonas aeruginosa kurang dari 1cm baik dari konsentrasi 2% hingga 10%, yang memiliki daya hambat paling luas ialah konsentrasi 8% dengan diameter sebesar 0,655cm sedangkan yang paling kecil hambatannya pada konsentrasi 6% dengan diameter sebesar 0,555cm.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Sabun Pigeon memiliki kandungan yang efektif sebagai antiseptic, sedangkan untuk aktivitas bakteri Pseudomonas aeruginosa rentan dan efektif terhadap antiseptic. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya semua zona jernih atau zona hambatan dari berbagai konsentrasi, terutama pada konsentrasi 8% yang mempunyai area paling luas yaitu sebesar 0,655cm.
DAFTAR PUSTAKA 
Sudarwati, T.P.L., 2018, BUKU AJAR PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI UNTUK DIII FARMASI, Surabaya, Graniti

Komentar

Postingan Populer