LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
METODE MOST PROBABLE NUMBER (MPN)
Disusun oleh:
KELOMPOK 6
Mohammad Saleh Helmi 135180298
Khoviva Eka Permata Sari 135180311
Savira Putri Prasditya 135180313
Indah Pratiwi 135180314
Hesti Nova Azizah 1351810312
Evi Tayakun Mahmuda 1351810381
Gadyz Aulya Hidayat 1351810388
KELAS A418
AKADEMI FARMASI SURABAYA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air kemasan yang
sekarang lebih popular adalah air galon. Karena air galon lebih praktis dan
bahkan lebih murah jika dibandingkan dengan mengonsumsi air minum yang direbus
dulu (Anonim, 2014). Namun dibalik murahnya harga air galon ternyata menyimpan
banyak resiko. Air galon sebetulnya telah diproses dan diolah sehingga dapat
langsung diminum tanpa pengolahan lebih lanjut.
Namun demikian
masih ada keraguan masyarakat mengenai kualitas air galon ini, terutama soal
higienitas dan sanitasi serta perizinan Menurut Kepala Dinas Kesehatan
Pemerintah Kota Pekanbaru, Rini Hermiati mengatakan air minum depot isi ulang
hanya bertahan sehari sehingga satu hari harus habis satu galon tersebut. Jika
tidak habis dalam satu hari, maka air tersebut harus direbus kembali. Hal ini
dikarenakan air tersebut hanya bertahan satu hari. Air isi ulang menurutnya
berdasarkan riset yang dilakukan mengandung bakteri E. coli yang berkembang
saat air bertahan dua hari. Apabila tetap diminum dalam waktu dua hari maka
akan menimbulkan rasa pusing dan diare (Anonim, 2014), sedangkan Hapsari (2004)
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh terhadap lama penyimpanan terhadap mutu
mikrobiologi.
Deteksi adanya
bakteri pada air minum dalam kemasan galon menurut Asih Rahayu Dosen Fakultas
Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya mengatakan 24 sampel air yang
diambil dari setiap galon telah diidentifikasi sebagai mengandung beberapa
bakteri dengan jumlah indikator TPC 1-22 CFU (Colony Forming Units) / ml. TPC
(Total Plate Count) jumlah sampel keseluruhan menunjukkan bahwa jumlah bakteri
cenderung meningkat setelah disimpan dalam dispenser air untuk jangka waktu
tertentu, yaitu hari kedua mencapai 2-98 CFU / ml, dan setelah hari keempat
mencapai 3-166 CFU / ml. Peningkatan jumlah bakteri sebagai air yang disimpan
di dispenser, mungkin disebabkan oleh reproduksi bakteri yang awalnya
terkontaminasi air minum. Jika tidak, peningkatan jumlah TPC mungkin juga
disebabkan oleh bakteri dalam air dispenser sendiri. Disarankan bagi konsumen
untuk membersihkan dispenser air sebelum mereka tukar galon untuk mencegah
kontaminasi bakteri dalam air minum mereka.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Air
Air merupakan materi
esensial bagi kehidupan makhluk hidup, karena makhluk hidup memerlukan air
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Secara umum fungsi air dalam tubuh
setiap organisme adalah untuk melarutkan senyawa organik, menstabilkan suhu
tubuh dan melangsungkan berbagai reaksi kimia tingkat seluler (Campbell, 2002).
Proses pengolahan air
minum pada prinsipnya harus mampu menghilangkan semua jenis polutan, baik
pencemaran fisik, kimia maupun mikrobiologis. Bisnis air minum isi ulang
merupakan fenomena yang tidak dapat dihilangkan. Pengaturan berupa standar
produk dan prosesnya sangat diperlukan dalam mengawasi pelaksanaanya. Pihak
konsumen akan terlindungi dan juga usaha air minum isi ulang itu sendiri. Depot
air minum isi ulang sampai saat ini masih ada yang belum memenuhi standarisasi
baku untuk memprosesan air minum. Beberapa penyakit menular sewaktu-waktu
meluas menjadi wabah (epidemi) karena tercemarnya air minum isi ulang,
diketahui bahwa air tersebut banyak yang telah terkontaminasi oleh bakteri
(Sulistyawati, 2003).
Pemeriksaan air secara
mikrobiologi sangat penting dilakukan. Pemeriksaan secara mikrobiologi baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dapat dipakai sebagai pengukuran derajat
pencemaran air secara mikrobiologi, umumnya ditunjukkan pada kehadiran bakteri
Coliform dan fekal Coliform. Bakteri Coliform adalah bakteri indikator adanya
pencemaran bakteri patogen. Penentuan Coliform fecal menjadi indikator
dikarenakan jumlah koloninya pasti berkarelasi positif dengan keberadaan
bakteri patogen. Makin sedikit kandungan Coliform artinya kualitas air semakin
baik (Nisak dkk, 2012).
Menurut Suriawira
(1996), Bakteri Coliform dapat dibedakan menjadi 2 kelompok :
1. Coliform fekal, contoh : Escherichia coli,
merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan dan manusia. Adanya
Escherichia coli dalam air minum, hal ini menunjukkan bahwa air minum yang
dikomsumsi telah terkontaminasi oleh feses manusia, oleh karena itu standar air
minum mensyaratkan Escherichia coli harus 0/100 ml.
2. Coliform non fekal misalnya : Enterobakter
aerogenes, biasanya ditemukan pada hewan atau tanaman yang telah mati. Bakteri
Coliform sebagai suatu kelompok dicirikan sebagai bakteri berbentuk batang gram
negatif, tidak membentuk spora, aerobik, dan anaerobik fakultatif yang
memfermentasi laktose dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada
suhu 35 °C-37 °C (Pelczar,1988).
Pemeriksaan MPN
dilakukan untuk pemeriksaan kualitas air minum, air bersih, air badan, air
pemandian umum, air kolam renang dan pemeriksaan angka kuman pada air PDAM.
Menurut Sunarti (2015) Dalam metode MPN untuk air minum ada dua tahap
pemeriksaan yaitu :
a. Tes Pendahuluan (Presumtive Test) Pemeriksaan
pada tes pendahuluan dengan menginokulasi pada media Lactose Borth dilihat ada
tidaknya pembentukan gas dalam tabung durham setelah di inkubasi selama 24 – 48
jam pada suhu 35oC – 37oC. Bila terdapat pembentukan gas tabung durham maka tes
air minum menurut KepMenKes RI No. : 907/MenKes/SK/VII/2002. bila setelah 48
jam tidak terbentuk gas, hasil dinyatakan negatif dan tidak perlu melakukan
penegasan.
b. Tes Penegasan (Confirmatif Test) Pemeriksaan pada
tes penegasan dengan penanaman pada media Brillian Green Lactosa Bileborth
(BGLB), dilihat ada tidaknya pembentukan gas dalam tabung durham setelah
diinkubasi selama 48 jam. Bila terbentuk gas dalam tabung durham maka tes
dinyatakan positif. Menurut Hamdiyati (2010), untuk melihat kualitas air dengan
indikator coliform, maka perlu dilakukan uji kualitatif dan kuantitatif bakteri
coliform melalui 3 tahapan yaitu uji Penduga (presumptive test), uji Penetap
(Confirmed Test), uji Pelengkap (Completed test).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu Dan
Tempat
Waktu Dan Tempat
Penelitian di
lakukan pada tanggal 12-15 November 2019 di Laboratorium Mikrobiologi Akademi
Farmasi Surabaya.
3.2
Metode Penelitian
Penelitian ini
bersifat eksperimen yang menggunakan metode penentuan nilai MPN untuk
mengetahui kualitas air pada sampel secara kuantitatif.
3.3
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan
dalam penelitian adalah tabung reaksi, tabung durham, pipet ukur, bunsen, cawan
petri, gelas ukur, jarum ose, rak tabung reaksi, kertas label, erlenmeyer dan
inkubator. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu sampel air
yaitu air isi ulang, media Natrium Broth (NB), media Lactose Borth (LB), media
Brilliant Green Lactase Bilebroth (BGLB), media Eosin Methelin Blue (EMBA), dan
alkohol 96% dan kapas.
3.4
Cara Kerja
- Sterilisasi
Alat dan bahan
Seluruh alat yang akan digunakan dicuci bersih dan
dikeringkan. Tabung reaksi, gelas ukur, dan erlenmeyer ditutup mulutnya dengan
kapas. Cawan petri dibungkus dengan kertas, kemudian semuanya dimasukkan dalam
plastik tahan panas dan sterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 30
menit. Jarum ose disterilkan dengan cara memijarkan pada api bunsen. Seluruh
media pembenihan disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Pembuatan Media Natrium
Broth (NB) sebanyak 0.216 gram dilarutkan dalam 27 ml, Lactose Borth (LB)
Sebanyak 1.053 gram Lactose Borth (LB) dilarutkan dalam 81 ml aquades, kemudian
diaduk sampai larut. Lalu disterilkan selama 15 menit di autoklaf dengan
tekanan udara 1 atm dan suhu 121°C. Pembuatan Media Brilliant Green Lactase
Bilebroth (BGLB) Sebanyak 3.24 gram Brilliant Green Laktosa Bileborth (BGLB)
dilarutkan dalam 81 ml aquades, kemudian diaduk sampai larut. Lalu disterilkan
selama 15 menit di autoklaf dengan tekanan udara 1 atm dan suhu 121°C.
Pembuatan Media Eosin Methelin Blue Agar (EMB) Sebanyak 37,5 gram Eosin
Methelin Blue (EMB) dilarutkan dalam 1000 ml aquades, kemudian diaduk sampai
larut dan dipanaskan hingga mendidih. Lalu disterilkan selama 15 menit di
autoklaf dengan tekanan udara 1 atm dan suhu 121°C.
2.
Pengambilan Sampel
Sampel air dibuat dengan menggunakan metode pengenceran
dalam erlenmeyer diambil dengan menggunakan mikro pipet sebanyak 1 ml dengan
volume 50 ml. Sampel air didapatkan dari
depot air isi ulang disekitar kampus Aademi Farmasi Surabaya (AFS).
3.
Uji Pendugaan
Disiapkan 3 tabung yang masing-masing berisi 9 ml media
cair Natrium Broth (NB) steril. Diatur letaknya pada rak tabung dan
masing-masing diberi kode (101, 102, 103).
Kemudian dituangkan air sampel menggunakan pipet steril masing-masing sebanyak
1 ml ke dalam tabung berisi media cair Natrium Broth (NB) steril, diinkubasi
selama 24 jam. Selanjutnya dihari berikutnya media cair kaldu Lactose Borth
(LB) steril yang sudah dilengkapi dengan tabung durham dituangkan media cair
Natrium Broth (NB) yang sudah berisi air
sampel menggunakan pipet steril masing-masing sebanyak 1 ml ke dalam tabung
yang berkode (A101, A102, A103,B101,
B102, B103, C101, C102, C103)
diinkubasikan 9 tabung yang sudah diperlakukan pada suhu 37°C selama 1×24 jam.
4.
Uji Penegasan
Disiapkan tabung yang masing-masing berisi 9 ml media
cair Brilliant Green Laktosa Bileborth
(BGLB) steril yang sudah dilengkapi dengan tabung durham. Tabung diatur
letaknya pada rak tabung dan masing-masing diberi kode yang sesuai dengan kode
tabung yang positif pada uji pendugaan, misalnya (D101, D102,
D103,E101, E102, E103, F101,
F102, F103) sehingga jumlahnya sama dengan jumlah tabung
yang positif saja. Lalu media cair kaldu Lactose Borth (LB) yang sudah positif
mengandung sampel dituangkan ke dalam tabung yang berisi Brilliant Green
Laktosa Bileborth (BGLB) steril sudah
diinkubasi dipipet masing-masing sebanyak 1 ml ke dalam tabung yang positif.
Kemudian tabung diinkubasikan pada suhu 45°C selama 1×24 jam.
5.
Uji Penguat
Sampel yang positif pada uji penegasan diinokulasi
sebanyak satu ose ke permukaan media Eosin Methylene Blue (EMB) secara zig-zag (sinambung)
lalu diinkubasi pada suhu 37˚C selama 1×24 jam.
Pertumbuhan koloni diamati pada media Eosin Methylene
Blue (EMB). Koloni yang menampakkan adanya kilau metalik adalah koloni bakteri
Escherichia coli. Setelah semua pengujian selesai, ditentukan nilai MPN
Coliformnya berdasarkan tabel MPN pada lampiran. Nilai MPN ditentukan
berdasarkan jumlah tabung yang positif dari perlakuan, dan dihitung = MPN tabel x 1/ pengenceran
tengah.
6.
Perhitungan bakteri
Koliform dan Escherichia coli
Perhitungan dengan Metode MPN didapatkan dengan
mencocokkan antara hasil analisa dengan tabel MPN (Depkes RI, 2002), yaitu
tabel yang memberikan Jumlah Perkiraan Terdekat (The Most Probable Number),
yang tergantung dari kombinasi tabung positif (yang mengandung bakteri Coli)
dan negatif (yang tidak mengandung bakteri Coli) dari kedua tahap tes. Angka
MPN tersebut mempunyai arti statistik dengan derajat kepercayaan (level of
significancy) 95%.Apabila hasil tabung yang positif terdapat pada kombinasi
tabung yang positif pada tabel MPN, maka jumlah bakteri E. coli dan Koliform
dihitung menggunakan tabel MPN. a. Apabila hasil tabung yang positif tidak
terdapat pada kombinasi tabung yang positif pada tabel MPN maka jumlah bakteri
E. coli dan Koliform dihitung dengan rumus :
Jumlah Bakteri (JPT/100 ml)= A
X 100 / √B x A
Keterangan: A. =
Jumlah tabung yang positif
B. = Volume (ml) sampel dalam tabung yang negatif
C. = Volume (ml) sampel dalam semua tabung (Depkes RI,
2002).
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil pengujian
dari sampel air minum isi ulang menunjukkan bahwa sampel mengandung bakteri
pencemar. Menurut BPOM (2008) batas ambang mikroba coliform dalam air minum
kemasan adalah 0 koloni/100 mL. Berdasarkan hasil tabel
... dan ...., kandungan bakteri Coliform pada masing-masing sampel ....... mL
sehingga dikategorikan bahwa sampel air minum isi ulang
tersebut layak/tidak layak konsumsi.
Keberadaan Coliform dalam sampel mengindikasikan bahwa adanya mikroba yang
bersifat enteropatogenik dan atau toksigenik yang berbahaya bagi kesehatan.
Bakteri Coliform merupakan bakteri indikator sanitasi, yang keberadaannya dalam
pangan menunjukkan bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh feses
manusia karena bakteri ini lazimnya pada usus manusia (Widiyanti & Ristiati
2004).
Bakteri Coliform
adalah golongan campuran bakteri fekal dan bakteri non fekal. Hasil uji
penegasan menunjukkan bahwa bakteri Colifom yang terkandung dalam sampel adalah
Coliform fekal. Menurut Fardiaz (1993) Coliform fekal merupakan golongan
bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia, contohnya Escherichia
coli. Hasil uji penguat menunjukkan
bahwa semua sampel mengandung Escherichia coli dan bakteri Coliform lainnya.
Bakteri E.coli merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang pendek.
Kehadiran bakteri E.coli pada air minum memperlihatkan buruknya kualitas air
minum tersebut. Bakteri ini termasuk bakteri patogen penyebab diare
(Simadibrata dan Daldiyono 2009).
Penyakit diare digolongkan sebagai penyebab kematian peringkat ke-13
dengan proporsi 3.5% di Indonesia dan urutan pertama yang menyebabkan pasien
rawat inap di rumah Sakit (Kemenkes RI 2011).
Keberadaan Coliform
dalam keempat sampel menunjukkan bahwa tahap pengolahan air minum isi ulang
tidak higienis karena mengalami kontak dengan feses yang berasal dari usus
manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dan dimungkinkan mengandung
bakteri patogen lain yang berbahaya. Menurut Nuria dkk (2009), adanya
kontaminasi mikroba pada air minum isi ulang dapat disebabkan oleh berbagai
macam faktor, antara lain (1) Lamanya waktu penyimpanan air dalam tempat
penampungan sehingga mempengaruhi kualitas sumber air baku yang digunakan; (2)
Adanya kontaminasi selama memasukkan air ke dalam tangki pengangkutan; (3)
Tempat penampungan kurang bersih; (4) Proses pengolahan yang kurang optimal;
(5) Kebersihan lingkungan; (6) Adanya kontaminasi dari galon yang tidak disterilisasi.
Permasalahan ini perlu ditanggulangi dengan cara meminimalisir kemungkinan
kontaminasi bakteri. Proses pengolahan air minum dilakukan dengan memperhatikan
air baku, kebersihan operator, penanganan terhadap wadah pembeli dan kondisi
depot. Operator menjaga kebersihan diri sendiri untuk mengurangi kontaminsasi
dengan mencuci tangan sebelum menangani wadah konsumen. Sterilisasi wadah
konsumen dilakukan dengan cara pencucian menggunakan deterjen khusus yang
disebut dengan tara pangan (food grade) dan dibilas dengan air bersih suhu
60-85C. Depot menyediakan tisu beralkohol untuk membersihkan mulut galon untuk
mengurangi tingkat kontaminasi bakteri dari luar terutama yang menggunakan
dispenser. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah lingkungan depot air
minum itu sendiri, depot dikondisikan terbebas dari debu dan pencemar lain yang
berpotensi mengkontaminasi air isi ulang (Afif et al. 2015).
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
pengujian sampel air minum isi ulang dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Pada pengujian
semua sampel air minum isi ulang diketahui bahwa terkontaminasi bakteri
Coliform dan E. coli.
- Sampel air minum
tersebut tidak layak untuk dikonsumsi karena adanya E. coli yang dapat
membahayakan kesehatan dan tidak memenuhi baku mutu dari Permenkes RI
No.492/Menkes/Per/IV/2010 yang menyatakan bahwa kadar yang diperbolehkan
yaitu 0 mg/l atau negatif adanya E. coli dan Coliform
DAFTAR PUSTAKA
Afif, F., Erly, dan Endrinaldi. 2015. Identifikasi
Bakteri Escherichia coli Pada Air Minum Isi Ulang yang Diproduksi Depot Air
Minum Isi Ulang di Kecamatan Padang Selatan (online). Website:
http://jurnal.fk. unand.ac.id.pdf. Diakses pada hari Sabtu, 25 Juni 2016 pukul
13.25 WIB.
Anonim. 2014. Air Minum dalam Kemasan, Standar Nasional Indonesia, SNI 01-3553-2006,
Badan Standar Nasional.
Badan POM RI. 2008. Pengujian Mikrobiologi Pangan.
Artikel. Jakarta. Diakses pada Desember 2014. Pk. 05.30
Campbell, N.A. 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 2.
Jakarta : Erlangga.
Depkes RI. 2002. Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air Minum. PerMenKes RI NO. 907/Menkes/SK/VII/2012. Jakarta : Depkes
RI.
Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. PAU.
IPB
Nisak, Aulia Jauharum, dkk. 2012. Uji Kualitas Air
(online). Website: http://www.scribd. com/mobile/doc/ujikualitasair.pdf.
Diakses pada hari Jumat, 24 Juni 2019 pukul 20.40 WIB.
Sulistyawati.2003. Studi Kulaitas Bakteriologis Air
Minum Isi Ulang Tingkat Produsen Di Kota Semarang. FK UNDIP Skripsi.
Suriawira. U. 1996. Air Dalam Kehidupan Dan
Lingkungan yang Sehat. Penerbit Alumni Bandung.
Pelczar, M. J. 2009. Dasar-Dasar Mikrobiologi.
Jakarta: UI-Perss.
Widiyanti dan Ristiati. 2004. Analisis Kualitatif
Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang Di Kota Singaraja Bali. Bali.
Jurnal Ekologi Kesehatan. Diakses pada Desember
2019. Pk. 04.00.


Komentar
Posting Komentar